Membangun Semangat dan Sportivitas dengan Batok Takeshi

Sabtu, 12 Januari 2019 13:49 WIB

Penulis:AZ

Permainan Batok Takeshi
Permainan Batok Takeshi undefined

Halopacitan, Pacitan—Tidak seperti sandal biasa, batok kelapa yang digunakan diikat dengan tali rafia yang dipegang oleh kedua tangan. Terlihat sepele, tetapi ternyata tidak mudah mengompakkan kaki dan tangan, karena setiap kaki kanan melangkah, tangan kananpun harus menarik tali.

Meski tampak kesulitan dan keluar keringat, anak-anak itu tampak gembira. Tak peduli akhirnya mereka kalah atau menang, mereka terlihat tertawa lepas.

Itulah sekilas gambaran lomba permainan tradisional yang dilaksanakan mahasiswa semester VII STKIP PGRI Pacitan. Lomba melibatkan siswa kelas III SD di di Kabupaten Pacitan. Permainan yang disebut sebagai Batok Takesi hanya salah satu dari sekian permainan yang dilombakan.

"Ini dalam rangka tugas akhir mahasiswa semester VII di STKIP PGRI Pacitan, untuk mengadakan permainan anak tradisional, jadi permainan anak kita vareasi ke modern," kata Sugeng R, ketua Panitia, Sabtu (12/01/2019).

Pada perlombaan tersebut, setiap sekolah yang mengikuti mengirimkan enam anak, tiga putra dan tiga putri, karena bentuk permainan yang dilombakan kelompok. Setiap permainan didampingi beberapa mahasiswa.

Permainan Batok Takeshi juga divareasi dengan permainan sunda manda, sebuah permainan tradisional yang mulai ditinggalkan banyak anak. Ada juga Java Hoki, yakni menggiring bola dengan stik untuk memasukkan ke gawang berukuran 1x1 meter melalui titik penalti.

Masih banyak permainan lain dengan menggunakan berbagai barang sederhana seperti bola spon, botol air mineral, balap karung, dan sebagainya. Permainan juga diselingi dengan berbagai pertanyaan yang harus dijawab peserta.

"Kalau hadiah hanya sederhana saja, hanya piala dan bingkisan, untuk penyemangat anak dalam belajar. Harapan kita permainan tradisional ini bisa diterapkan di sekolah, bahkan juga di rumah, agar mengurangi kegiatan anak-anak bermain gadget," imbuhnya.

Widiantoro, guru pendamping dari salah satu SD di Pacitan mengakui permainan tradisional sebenarnya cukup menginspirasi, selain juga cukuo dengan peralatan sederhana. Dengan berbagai vareasi, permainan tradisional ini akan lebih menarik.

Tidak seperti gadget, permainan tradisional juga membuat anak bergerak hingga melakukan olah fisik, membangun kerja sama, sportivitas dan berfikir.

"Cukup bagus, dan pasti akan saya terapkan lagi di sekolah, tinggal menambah dengan vareasi lainnya agar anak juga tidak jenuh," ungkapnya.