
Petani Janggelan Menjerit, di Tengah Pandemi COVID-19
COVID-19 bukan saja meresahkan dunia kesehatan namun juga memukul hampir semua sendi kehidupan, termasuk petani janggelan di Pacitan Jawa Timur. Harga janggelan yang turun drastis terlebih sudah lepas Bulan Ramadhan membuat para petani menjerit.
Halo Berita
COVID-19 bukan saja meresahkan dunia kesehatan namun juga memukul hampir semua sendi kehidupan, termasuk petani janggelan di Pacitan Jawa Timur. Harga janggelan yang turun drastis terlebih sudah lepas Bulan Ramadhan membuat para petani menjerit.
Tarno, salah satu petani janggelan yang dihubungi team halopacitan melalui sambungan telephon menuturkan, ” Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Pandemi ini memang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap komoditi janggelan, yang biasanya petani bisa menjual banyak tetapi pada masa pandemi ini permintaan dari pedagang/tengkulak menurun”.
Lebih lanjut Tarno juga menambahkan Dulu sebelum pandemi dan sebelum hari raya harga Janggelan mencapai 55 ribu per kilo, terus menurun menjadi 40 ribu per kilo dan turun lagi sekarang tinggal 30 ribu per kilo”, tuturnya pria asal Desa Gondang Kecamatan Nawangan, Rabu (17/06/2020).
Perlu diketahui tanaman janggelan merupakan bahan baku untuk pembuatan cincau hitam yang lebih banyak dijadikan makanan olahan sejenis minuman seperti cendol dawet, es buah, capucino cincau, dan lain-lain. Warnanya yang hitam khas dan rasanya adem didalam perut apabila dikonsumsi.
Tanaman Janggelan sendiri modelnya seperti rumput, daunya hijau, tinggi tanaman antara 15- 30 cm. Tanaman janggelan merupakan tanaman yang sangat diandalkan di daerah pedesaan, sebab cara tanam hingga pengolahan sangat mudah. Namun, tanaman yang melimpah tetapi tidak laku dijual menjadi permasalahan baru.
Akibat badai COVID-19 ini Tarno menuturkan mengalami sejumlah kerugian. “Penjualan berkurang hingga 200 rb sekali jual. Sebelum harga turun, sekali jual sampai 1,2 juta, setelah penurunan tinggal 1 juta bahkan kurang", imbuh Tarno
“Saya mewakili teman-teman petani janggelan hanya berharap pandemi segera berakhir dan komoditi tanaman janggelan harganya kembali normal, sebab hal ini sangat mempengaruhi perekonomian para petani janggelan. Semoga pandemi ini segera hilang, semua selamat dan harga janggelan kembali baik”, pungkas Tarno..
