IMG-LOGO
Home Halo Berita Angkat Besi Terancam...

Angkat Besi Terancam Tak Jadi Ladang Medali Pacitan

Tomi Herlambang - Jumat, 2 Agustus 2019 pukul 07.06
Latihan di sasana Bina Satria Pacitan Latihan di sasana Bina Satria Pacitan (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Punung—Suara besi, beban dan kayu yang beradu diselingi helaan napas dan teriakan sepenuh tenaga mewarnai sasana Bina Satria yang menjadi pusat latihan atlet-atlet angkat besi Kabupaten Pacitan sore itu. Beberapa atlet muda tampak serius berlatih  didampingi Samsuri sang pelatih sekaligus pengelola sasana tersebut.

Padahal baru beberapa hari atlet-atlet tersebut pulang dari bertanding di ajang Porprov yang di gelar di Bojonegoro. Namun tidak nampak wajah-wajah lelah, semua nampak segar dan serius dalam menerima materi. "Kita sudah ditunggu lawan-lawan berat di ajang kejuaraan internasional Satria yang akan di gelar di Semarang," jelas Samsuri kepada Halopacitan Rabu (31/07/2019).

Angkat besi adalah salah satu cabor yang rutin menyumbangkan medali dan penghargaan bagi Kabupaten Pacitan.  Seperti pada ajang Porprov 2019, angkat besi menyumbangkan medali terbanyak dengan tiga emas dan tiga perunggu. "Tiap tahun kami rutin menyumbangkan medali dalam ajang Porprov, dan itu disumbangkan oleh atlet-atlet lokal yang dibina di sini," jelas Samsuri lagi.

Namun di balik menterengnya prestasi angkat besi Pacitan, Samsuri mengaku khawatir dengan masa depan cabang ini. Menurutnya angkat besi bisa saja tidak lagi menyumbang kebanggaan bagi masyarakat Pacitan.

Ia beralasan jeda umur atlet yang ia bina sekarang di level junior sangat jauh antara atlet yang sudah berprestasi dengan yang masih dalam pembinaan awal. Hal itu akibat beberapa faktor di antaranya sumber daya atlet maupun pelatih, rendahnya minat, kurangnya publikasi serta beberapa faktor lainnya.

Pelatih yang saat ini menangani 10 atlet junior tersebut juga mengaku sedikit kebingungan saat harus mengawasi atlet-atletnya saat berlatih bersama selama dua jam. "Angkat besi ini olahraga individual, dalam latihan pun pengawasannya harus satu-satu karena karakteristik masing-masing atlet berbeda. Terpaksa untuk latihan mereka harus bergiliran,  karena mata saya hanya dua," jelas Samsuri yang mengaku hingga saat ini tidak memiliki asisten tersebut.

Padahal menurut Samsuri, alam Pacitan sendiri sangat potesial untuk menelorkan atlet-atlet berprestasi, seperti wilayah Nawangan, Bandar, Tulakan maupun daerah pesisirnya. Menurut pelatih yang saat ini masih bertugas sebagai PNS di Kemenpora tersebut, alam Pancitan  menempa calon-calon atlet tangguh, namun hingga saat ini ia mengaku belum bisa membuka potensi-potensi tersebut lebih dalam.

"Saat ini anak-anak yang berlatih hanya dari daerah sekitar sini, ada satu anak yang dari Ploso, Pacitan. Saya terima karena orang tuanya punya komitmen kuat untuk menjadikan anaknya atlet," ujar Samsuri, seraya menjelaskan bahwa membentuk atlet angkat besi sendiri memerlukan waktu yang panjang, kedisiplinan dan target yang jelas terutama saat pembentukan dan pembinaan.

Ia juga memiliki harapan besar bahwa suatu saat Pacitan memiliki program pemusatan latihan bagi atlet-atlet setingkat yunior dan pelajar yang berprestasi maupun berpotensi demi semakin meningkatnya prestasi Pacitan. "Mimpi saya, kita adakan talent lalu kita selenggarakan program pemusatan semacam PPLPD begitu. Sebenarnya kita khan sudah punya modal komplek olah raga yang lumayan megah di area stadion. Mari bersama kita berdayakan," kata Samsuri seraya menerawang jauh.

Tekait hasil porprov sendiri, atlet penyumbang medali Luluk Diana dan Amel Chandra mengaku bangga bisa ikut mengangkat nama Pacitan melalui cabor yang mereka tekuni. Mereka juga senang telah menerima bonus yang dijanjikan oleh Ketua KONI daerah, yang diterimakan langsung oleh Bupati Pacitan di pendopo kabupaten.

Dari total tiga emas yang disumbangkan Luluk ia memperoleh bonus sejumlah Rp45 juta, sedangkan Amel yang mengumpulkan tiga perunggu memperoleh bonus sebesar Rp15 juta. "Saya terima 4 hari yang lalu sebagian saya belikan motor, sebagian lagi saya tabung," ucap Luluk yang masih duduk di kelas IX tersebut.

Sedangkan dari bonus yang diterima, Amel menabungnya setelah diambil sebagian intuk membeli ponsel. "Hanya untuk komunikasi, selalu diawasi oleh coach," aku gadis mungil siswi kelas VI sekolah dasar yang mengidolakan atlet angkat besi peraih perak olimpiade Sri Wahyuni tersebut.

Disinggung tentang prestasinya saat ini, mereka berdua mengaku belum puas atas capaian saat ini, mereka ingin lebih berprestasi. "Menurut coach, kami punya potensi untuk menjadi atlet pelatnas bahkan lebih. Yang penting rajin dan disiplin, saya percaya dan ingin membuktikannya," ungkap Luluk.