IMG-LOGO
Home Halo Berita Catatan Untuk Para C...

Catatan Untuk Para Calon Pemimpin Zaman Vivere Percoloso

Dr. Sri Pamungkas, S.S., M.Hum - Kamis, 15 Agustus 2019 pukul 06.53
Dr. Sri Pamungkas, S.S., M.Hum Dr. Sri Pamungkas, S.S., M.Hum (sumber: dok pribadi)

Meminjam istilah Bung Karno sekitar 55 tahun yang lalu, tepatnya pada peringatan HUT ke-19 Republik Indonsia, perlu kita lakukan refleksi apa yang saat ini terjadi di negeri ini. Saat pidato kenegaraan tanggal 17 Agustus 1964 tersebut Bung Karno memberikan semangat dan warning untuk berhati-hati di tahun Vivere Pericoloso (disingkat Tavip) atau tahun menyerempet bahaya.

Kita tidak sedang berperang melawan kolonial tetapi kita sedang berjuang bagaimana mewujudkan Indonesia yang abadi, tenang, berkeadilan dan para pemimpinnya berprinsip teguh untuk memperjuangkan hak-hak rakyat secara umum bukan atas nama pribadi atau golongan. Era dimana KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) marak ini pun perlu diwaspadai sebagai era vivere pericoloso.

Untuk  mengatasi itu semua tentu kita membutuhkan sosok pemimpin yang berkarakter. Bumi Indonesia tentu membutuhkan pemimpin yang berkarakter Indonesia bukan pemimpin titipan golongan karena semua dari kita adalah pemimpin, dan sejatinya seorang pribadi sebagai pemimpin maka harus mampu melihat, mendorong dan mendudukkan siapa sejatinya pemimpin yang layak.

Praktik-praktik KKN dengan segala modifikasinya disadari atau tidak terus menjamur. Pengalaman dan kecerdasan terkadang tidak lagi menjadi skala prioritas terkalahkan dengan asal muasal orgaisasinya, strata sosialnya, dan fulus. Bila tidak dapar rekom jangan harap akan lancar segalanya,bila tidak banyak duit jangan harap akan dipilih, dan seterusnya.

Inilah zaman vievere pericoloco era kekinian. Orang-orang pintar mulai disingkirkan terkalahkan dengan kedekatan, pertemanan, strata sosial, dan duit. Para petinggi mulai antikritik padahal  Bung Karno mengajarkan dialektika yang luar biasa bahwa siapa pun tidak boleh mengekang kebebasan berbicara golongan mana pun, karena dialektika membutuhkan kubu kubu tesis, antitesis, demi mencapai kesepakatan yang dinamakan sintesis. Oleh karena itu, para pemimpin masa depan harus lahir dari proses realistis, transparan dan akuntabel dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Kabupaten Pacitan Jawa Timur sebagai salah satu Kabupaten yang pada tahun 2020 akan melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah, tepatnya tanggal 23 September 2020,  tentu harus mulai bersiap diri. Sumber daya alam Pacitan yang begitu eksotik, maritim yang begitu menggiurkan, tambang yang begitu luar biasa, serta potensi-potensi yang lain tentu membutuhkan sosok yang ‘kuat’ secara prinsip dan visioner.

Terlebih bila mengacu pada rencana kerja pemerintah (RKP) 2020 untuk fokus pada peningkatan sumber daya manusia (SDM), dan RPJMD tahun 2020-2045 yang menekankan lima prioritas nasional, pembangunan SDM, pengentasan kemiskinan, infrastruktur, nilai tambah sektor riil idustrialisasi dan kesempatan kerja, ketahanan pangan, air, energi dan lingkungan hidup serta stabilitas pertahanan dan keamanan, harus mampu diterjemahkan oleh calon pemimpin kota seribu satu goa.

Bersandar pada RKP dan RPJMD tersebut tentu dibutuhkan sosok yang ‘paham’ permasalahan di lapangan, potensi yang bisa digali, luwes dalam berinteraksi, mengakar dan egaliter karena seorang pemimpin tidak lahir di menara gading tetapi lahir dari rakyat.

Artinya, bila saat ini sudah mulai bertaburan dan bahkan ramai diperbincangkan tentang nama-nama bakal calon Bupati Pacitan maka Partai Politik yang mempunyai porsi sebagai pengusung benar-benar harus mampu membaca siapa figur yang ‘laku’ dijual. Hal ini tentu bermakna sagat dalam, bukan saja pada garis manusia tetapi garis Illahi, terlebih mereka yang akan beragkat dari jalur independen tentu masyarakat pengusung pun juga harus jeli, karena benar-benar harus tepat, the right man in the right place.

Memilih orang apalagi pemimpin harus tepat karena bila tidak akan merugi bagi semua. Selain itu, seorang pemimpin harus selalu memegang prinsip sabda pandita ratu tan kena wola-wali, dan berbudi bawalaksana, di mana omongannya bisa dipegang tidak mencla-mencle dan satunya kata dengan perbuatan. Pacitan kaya akan sumber daya manusia baik yang saat ini tinggal di Pacitan maupun yang sedang berkarier di luar Pacitan. Bersiap dari sekarang untuk pemimpin Pacitan ke depan yang mampu membawa perubahan, jangan terperosok para pemimpin amplop, tetapi yang harus lahir adalah pemimpin-pemimpin yang mampu membawa Pacitan ke arah yang lebih baik. Save Pacitan.

 

Dr. Sri Pamungkas, S.S., M.Hum. adalah praktisi pendidikan Pacitan