IMG-LOGO
Home Halo Berita Dengan Prinsip Sate,...

Dengan Prinsip Sate, M. Nurul Huda Menjalani Hidup dan Meraih Sukses

Tomi Herlambang - Sabtu, 20 Juli 2019 pukul 06.17
M Nurul Huda saat membuka Kompetisi Sains Madrasah Sabtu (20/07/2019) M Nurul Huda saat membuka Kompetisi Sains Madrasah Sabtu (20/07/2019) (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Pacitan— Dr. Muhammad Nurul Huda S.Ag, M.Pd, lelaki kelahiran Pacitan, 18 September 1968 boleh dibilang sukses dalam meniti karier dengan posisinya sekarang sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Pacitan. Namun jangan salah, dia meraih dengan penuh perjuangan, termasuk gelar doktor tersemat di namanya.

Berasal dari keluarga petani kecil sederhana dan putra guru ngaji yaitu KH Burhanudin, Nurul Huda menghabiskan masa kecilnya dihabiska di Dusun Krajan, Desa Kembang, Kecamatan Pacitan. Huda begitu ia biasa disapa  menempuh pendidikan di SDN Kembang saat pagi hari sementar saat sore dia belajar di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum Kembang.

Ia dididik dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang kuat memegang norma-norma Islam. Berbekal semangat, setapak demi setapak meniti karier dibidang yang semenjak kecil ia minati yaitu bidang keagamaan.

Dia memulai kariernya sebagai guru tidak tetap pada tahun1994 di berbagai sekolah seperti SMP 4 Pacitan, STM Bina Karya Pacitan, MTs serta MA Al- Fattah Kikil, Arjosari dan beberapa sekolah lain di sekitaran Pacitan.

Setapak demi setapak jenjang karier dilaluinya dengan penuh perjuangan. Dia berprinsip hidup harus ‘SATE’ yakni sabar, antepan, telaten lan entengan. Filosofi itu dipegangnya hingga sekarang.

Menjadi pejabat tak menyurutkan niatnya untuk terus belajar. Bahkan pada 2018 Huda meraih gelar doktor bidang Manajemen Pendidikan Islam dari Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Tulungagung dengan desertasi berjudul ‘Penguatan Nilai-Nilai Agama dengan budaya Madrasah’. Dia mengambil MTs Ma'arif 02 Pacitan dan SMP Model Al Istiqomah Pacitan sebagai studi kasus.

Nurul Huda mulai mengambil program doktor sejak 2016 saat itu ia masih menjabat sebagai Kasi Pendidikan Madrasah. Di tengah kesibukan sehari-hari di kantor, setiap Kamis, Jumat Sabtu dan Minggu ia juga harus ke Tulungagung untuk merampungkan studinya. "Sempat ada protes dari keluarga, terutama anak-anak. Namun alhamdulillah, mereka berhasil saya yakinkan," ucap Huda Sabtu (20/07/2019).

Pria yang mengambil pendidikan S2 di Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA) Surabaya itu akhirnya berhasil menyelesaikan desertasi dan mempertahankannya di depan dewan penguji pada 2 Agustus 2018. Bahkan ketika wisuda digelar pada 22 Juni 2019, Nurul Huda menjadi lulusan terbaik.

Desertaisinya didasari keprihatinan Huda atas dahsyatnya arus globlalisasi yang tidak terbendung. Kecanggihan teknologi informasi di satu sisi memang membawa nilai positif, tetapi nilai negatifnya juga sangat berbahaya seperti kehancuran moral generasi muda. Menurutnya salah satu filter arus perubahan zaman yaitu  degan judul penguatan nilai agama dan budaya di dunia pendidikan, khususnya madrasah.

Desertasi berhasil mengambil kesimpulan bahwa karakteristik penguatan nilai-nilai agama dengan budaya madrasah, dalam hubungannya dengan pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam rangka melahirkan madrasah/sekolah dan warga madrasah yang berkualitas.