Filosofi Tempe Hingga Perjalanannya Menuju Dunia Internasional

Halo Kuliner 14 Sep 2020, By Pamungkas
Filosofi Tempe Hingga Perjalanannya Menuju Dunia Internasional (halopacitan/istimewa)

Tempe menjadi makan favorit keluarga Indonesia. Makanan yang terbuat dari kedelai, kaya vitamin, tetapi nyaman di kantong ini menjadi sumber protein dengan rasa gurih menggoda. Siapa sangka dibalik kesedehanaan tempe mengandung makna filosofi yang begitu dalam. Tak pelak tempe pun mulai merambah dunia internasional.

Zaman dulu tempe dibuat di rumah-rumah, berbeda dengan sekarang di berbagai kota di Indonesia tempe diolah di pabrik. Namun ada sisi menarik, di Pacitan JawaTimur masih banyak keluarga-keluarga yang membuat tempe di rumah, dikerjakan oleh anggota keluarga. Pembagian tugas pun dilakukan siapa yang memroses kedelai hingga siap dengan proses peragian hingga tahap membungkusnya dan memasarkannya.

Hal tersebut merupakan potret bahwa tempe menjadi simbol keluarga harmonis di Jawa. Dilansir dari kompas.com  peneliti pusat studi pangan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito yang juga Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada menjelaskan tempe memiliki kiasan dan filosofi.

Dikatakannya, “Di suku Jawa terdapat kiasan ‘Yen atine becik, tempene apik’ jadi tempe itu hanya bisa dibuat oleh orang-orang yang hatinya itu bagus, prilakunya bagus. Artinya rumah tangganya harmonis dapat memelihara hubungan kekeluargaan rumah tangganya dengan baik,” papar Murdijati.

Lebih lanjut Murdijati mengatakan, “Zaman dahulu, pembuatan tempe memerlukan kerja sama antar anggota keluarga. Mulai proses merebus dan mengupas kedelai biasanya dilakukan kaum laki-laki. Tetapi setelah kedelai rebusnya dikupas dan diberi usar (ragi tradisional), selanjutnya yang mengusari adalah perempuan. Perempuan juga harus bersih artinya tidak sedang menstruasi. Proses membungkus sampai dengan menjual ke pasar  termasuk tugas perempuan”.

 Simbol kebersaam terpotret bagaimana proses tempe dibuat. Nilai kerjasama, bagi tugas, sampai dengan ajaran-ajaran filosofi harus selalu bersih baik jiwa maupun raga, berpikir positif sehingga yang muncul adalah kebaikan, termasuk produksi tempe.

Siapa sangka tempe yang menjadi menu sehari-hari keluarga Indonesia dari berbagai strata ini telah merambah dunia internasional sejak lama. Murdijati menyebutkan bahwa sejak penjajahan kolonial Belanda di Nusantara tempe mulai populer di Eropa.  Jepang pun mulai menggemari tempe sejak menduduki Indonesia.

“Australia juga mengembangkan penelitian mengenai tempe dan Amerika juga seperti itu, bahkan di Kenya mengembangkan tempe sebagai makanan yang bermanfaat,” jelas Murdijati. Ia juga mengakatan jika tempe adalah makanan dari Indonesia yang manfaatnya bisa dirasakan oleh bangsa-bangsa lain di dunia.

undefined

SP