IMG-LOGO
Home Halo Pendidikan Harus Nyata, Status ...

Harus Nyata, Status Pacitan Layak Anak Jangan Sekadar Plakat

Tomi Herlambang - Kamis, 1 Agustus 2019 pukul 08.54
Aisya Aulia Sudrajat Aisya Aulia Sudrajat (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Pacitan—Penghargaan yang diterima Pacitan sebagai kabupaten layak anak tingkat madya pada puncak peringatan Hari Anak Nasional tahun 2019 23 Juli lalu tak luput dari peran serta dan prestasi dari forum anak Kabupaten Pacitan dan juga lembaga-lembaga masyarakat yang peduli dengan dunia anak di Pacitan.

Aisya Aulia Sudrajat, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Pacitan yang saat ini menjadi Ketua Forum Anak Kabupaten Pacitan menjelaskan bahwa prestasi anak-anak di Kabupaten Pacitan juga menjadi salah satu indikator penting meningkatnya status Pacitan sebagai Kabupaten layak anak ke tingkat madya.

Menurut Echa begitu ia akrab dipanggil, forum anak Pacitan memiliki berbagai macam kegiatan yang mampu men-support prestasi Kabupaten Pacitan. Mulai dari trauma healing bagi anak-anak korban bencana, kerja sama dengan lembaga pendidikan, keikutsertaan dan pengajuan program dalam musrenbang, karya literasi maupun ilmiah anak dan lain sebagainya.

Bahkan beberapa kegiatan dari forum anak pacitan mampu membawa prestasi tersendiri, seperti program Si Dul Si Agi ( siswa peduli siswa berbagi) dimana forum anak bekerja sama dengan OSIS SMA Negeri 1 Pacitan melakukan penggalangan dana dalam tiga bulan, dimana tiap satu tahun sekali mereka melakukan bakti sosial kepada lembaga sekolah lain yang membutuhkan, dari dana yang diperoleh melalui iuran siswa setiap hari Senin dan Kamis selama tiga bulan diangkat menjadi program forum anak Jawa Timur di ajang forum anak nasional 2019. Juga penghargaan Dafa Award 2019 sebagai tiga nominasi video terfavorit dari dua kategori pendidikan dan kesehatan yang di peroleh dari Data Forum Anak Nasional.

Meskipun sekarang penghargaan tingkat madya berhasil diraih, Echa mempunyai harapan agar status Pacitan sebagai kabupaten layak anak benar-benar nyata dan dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya dan anak-anak pada khususnya.

Ia berharap pemerintah lebih memperbesar porsi anggaran untuk mendukung kehidupan anak di Pacitan baik melalui program infrastuktur maupun yang lainnya. "Semoga kebijakan-kebijakan pemerintah bisa ramah terhadap anak. Seperti penambahan penerangan di wilayah alun-alun yang merupakan ruang publik, agar jauh dari penyalahgunaan dan lebih nyaman untuk anak," ucapnya.

Selain forum anak, peran serta lembaga-lembaga sosial peduli anak yang berbasis masyarakat juga merupakan salah satu indikator penting dalam prestasi Pacitan sebagai kabupaten layak anak tingkat madya, salah satunya adalah Sanggar anak DBOECAHS.

Melalui sanggar tersebut berbagai prestasi anak-anak Pacitan juga terukir cemerlang. Lebih fokus di bidang literasi anak, yaitu kemampuan dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah, sanggar tersebut mampu berprestasi dalam bidang karya tulis bahkan hingga tingkat nasional.

Echa yang juga salah satu siswa penulis remaja di sanggar tersebut pernah meraih juara pertama lomba menulis purbakala yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia tahun 2018, serta juara 1 lomba menulis surat untuk Presiden Republik Indonesia pada tahun 2015. Selain Echa sendiri, menurut Sri Pamungkas, pengelola sekaligus penanggung-jawab Sanggar DBOECAHS juga menyampaikan beberapa prestasi yang lain. Diantaranya 3 terbaik kategori penulis cilik terbaik 2018, 4 terbaik kategori penulis cilik terbaik 2018 dan beberapa perlombaan lain yang bersifat lokal maupun regional.

Menurut Dr. Sri Pamungkas pakar pendidikan sekaligus pemerhati anak di Kabupaten Pacitan mengatakan, DBOECAHS yang beralamat di Jalan Yos Sudarso Nomor 19 Desa Bangunsari Kecamatan Pacitan itu sendiri tidak hanya berkutat dalam pendidikan di ruang kelas, di berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan pun sanggar yang saat ini memiliki 50 siswa tersebut juga aktif terjun. Salah satunya adalah pada saat Pacitan mengalami bencana banjir pada akhir tahun 2017, sanggar DBOECAH bersama forum anak Pacitan menggandeng Komunitas Pendongeng Indonesia melakukan trauma healing terutama kepada anak-anak korban bencana di beberapa tempat di Kabupaten Pacitan.

Terkait dengan keberadaan lembaga-lembaga masyarakat yang peduli dengan anak sebagai salah satu indikator penilaian kabupaten layak anak, Sri Pamungkas berharap Pemkab lebih intens dalam membangun sinergi melalui dinas yang ada dengan lembaga-lembaga masyarakat yang peduli dengan kondisi anak Pacitan.

Sehingga predikat kabupaten layak anak tingkat madya ini tidak hanya sekadar plakat, namun benar-benar menjadi roh kehidupan anak di Pacitan. "Mari kita bersama-sama membentuk anak-anak Pacitan yang berkarakter, anak yang bisa menghargai sebuah proses dengan menciptakan tataran nilai dalam bersikap, bertingkah-laku dan bertutur-kata sehingga anak-anak tidak terdorong untuk mengambil langkah menghalalkan segala cara demi suatu prestise saja dengan jalan menyediakan fasilitas-fasilitas yang mensupportnya," jelasnya. "Hal itu juga yang kami kembangkan di DBOECAHS ini" lanjutnya.