Jangan Panik, Yang Penting Lakukan Ini Bila Hadapi Resesi

Halo Berita 11 Sep 2020, By Rahmat DS
Jangan Panik, Yang Penting Lakukan Ini Bila Hadapi Resesi (halopacitan/istimewa)

Kondisi Indonesia yang masih terus memrihatinkan akibat COVID-19, memaksa setiap orang untuk selalu siap menghadapi segela resiko, termasuk bila terjadi resesi.

Resesi ekonomi dapat dipahami sebagai kelesuan ekonomi. Kondisi di mana produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan atau pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal secara berturut-turut atau lebih dari satu tahun. Resesi dengan demikian dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada setiap aktivitas di sektor ekonomi, mulai lapangan kerja, investasi, dan juga keuntungan perusahaan

Meski ancaman resesi terasa sulit dihindari, masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengecilkan risiko saat resesi terjadi, dilansir dari TrenAsia.com.

Penjamin Pinjaman

Pandemi membuat semua sektor diliputi ketidakpastian. Pastikan Anda menghindari menjadi penjamin simpanan (Cosigner).  Penjamin simpanan secara otomatis memiliki kewajiban membayar utang peminjam apabila di perjalannya tidak mampu membayar.

Hal tersebut mengandung konsekuensi, penjami simpanan telah terikat kontrak persetujuan untuk melunasi utang peminjam dalam kondisi yang sesuai dengan kontrak. Besarnya risiko kredit gagal membuat penjamin simpanan bukanlah pilihan yang bijak untuk diambil.

Hipotek dengan Suku Bunga Fluktuatif

Hindari mengambil hipotek dengan suku bunga yang dapat disesuaikan (ARM). Lagi-lagi soal ketidakpastian, saat resesi, suku bunga akan turun dan tentu menguntungkan karena pembayaran bulanan juga ikut rendah.

Namun, apabila ekonomi pulih, bunga ini akan ikut terkerek naik dan bisa jadi Anda tidak mengantisipasi kenaikan tersebut dan membuat kelancaran kredit jadi tersendat.

Berutang

Jangan sekali-kali berutang, meskipun dalam kondisi susah. Lebih baik tahan konsumsi dan atur manajemen keuangan. Berutang adalah jalan pintas yang sama sekali tidak dianjurkan oleh siapapun saat kondisi ekonomi tengah krisis.

Terlebih, peruntukkan utang hanya untuk konsumsi rumah tangga harian. Jika masih bisa, lunasi utang yang saat ini ada dan mulailah menata keuangan dari awal. Hidup irit tapi tanpa utang akan jauh lebih ideal, terutama di tengah ancaman pemutusah hubungan kerja.

Hati-hati Investasi

Jangan salah, situasi seperti ini justru merupakan momentum tepat berinvestasi. Salah satu sektor yang masih cukup menjanjikan untuk dijadikan investasi saat resesi menimpa adalah sektor konsumsi.

Saham-saham yang berasal dari perusahaan consumer goods yang tidak berorientasi pada ekspor cenderung lebih stabil meski di tengah resesi. Selain itu, logam mulia seperti emas juga tidak kalah berkilau. Buktinya, tren harga emas global terus memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan investor yang berhasil untung di tengah krisis ekonomi 1998 silam.

Namun, ekspansi bisnis bukanlah pilihan yang tepat saat ini. Jika salah perhitungan, ekspansi justru dapat menyeret bisnis Anda dalam kebangkrutan. Lebih baik, atur tata kelola keuangan agar tetap sehat dalam dapat berlangsung selama mungkin sampai krisis berakhir.

Jangan Boros

Langkah paling bijak melewati krisis ekonomi saat ini adalah dengan mengatur keuangan pribadi atau rumah tangga secara cermat. Caranya, masyarakat bisa mengatur ulang porsi belanja menjadi lebih selektif. Misalnya, mengutamakan belanja kebutuhan pokok, kesehatan, operasional, dan dana darurat.

Pos dana darurat juga dapat diperbesar anggarannya, dari alokasi ideal sekitar 5%-10% menjadi 40% dari total pemasukan. Skema realokasi juga menjadi salah satu instrumen yang dapat diterapkan.

undefined

SP