Kauman Sego Gurih, Warnai Maulid Nabi di Pacitan

Halo Kuliner 9 Nov 2019, By H. Yusuf Evendi
Kauman Sego Gurih, Warnai Maulid Nabi di Pacitan (Halopacitan/H. Yusuf Evendi)

Tradisi masyarakat Jawa di Pacitan khususnya di Desa Pelem Kecamatan Pringkuku, dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah kauman sego gurih lengkap dengan ingkung ayam. Sejak  zaman dahulu sampai sekarang tradisi memperingati Maulud Nabi masih terjaga terbukti mulai RT, sekolah sampai dengan desa masih melaksanakannya.   

Tradisi peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW biasanya dilakukan di mushola atau masjid atau juga ada yang dilaksanakan di rumah penduduk. Diawali  ujud-ujud (menyampaikan maksud dalam bahasa Jawa), doa bersama dan kadang-kadang ditambah dengan mendengarkan tausiyah. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sodaqohan, dengan makan bersama-sama (kauman) sajian berupa nasi gurih dan ayam ingkung.

Disinggung tentang pendapatnya berkaitan tradisi peringatan Maulud Nabi, salah satu warga Bungur Desa Gondosari mengungkapkan,“Nasi gurih dan ayam ingkung sekarang sudah semakin jarang, jadi kalau pas Maulid seperti ini sangat kita nantikan",  kata Aziz Linggar warga Bungur Gondosari kepada halopacitan.com Jumat (8/11/2019). Ia juga mengatakan  tradisi semacam ini harus tetap dilestarikan sebab banyak  sisi positifnya salah satunya  sebagai sarana bersilaturahmi dengan tetangga.

“Menurut saya, tradisi ini baik, bisa sebagai sarana silaturahmi dengan tetangga, walaupun di sisi lain banyak yang memandang adat ini negatif tapi itu saya anggap wajar” , tuturnya.

Bagi masyarakat Pacitan, sego gurih atau nasi gurih merupakan sebuah wujud dari rasa syukur dan meminta kesalamatan kepada Tuhan. Dengan filosofi tersebut maka seringkali kita juga menjumpai nasi gurih disajikan dalam upacara tradisi syukuran dan selamatan dalam budaya Jawa. Sedangkan filosofi ingkung ayam, merupakan perwujudan harapan agar manusia bisa meniru perilaku ayam. Perilaku seperti apa itu, salah satunya adalah bahwa ayam tidak pernah melahap semua makanan yang diberi padanya melainkan memilih makanan mana yang baik dan tidak, serta hanya makan secukupnya dan tidak pernah menyimpannya untuk keperluannya sendiri.  "Sudah sejak zaman simbah dulu, kalau nasi gurih itu simbol rasa syukur dan ingkung ayam sebagai simbol perilaku manusia agar bisa membedakan mana yang baik dan tidak", kata Sukatno (64 Tahun) salah satu warga dusun Sembungan Pelem.

undefined

SP