Melalui Program RKSA 2021, Kalbe Farma Siap Biayai Rp1,5 Miliar untuk Penelitian COVID-19

SP -27 Februari 2021 04:28 WIB,
Ilustrasi: Kalbe Farma Danai Penelitian Tentang COVID-19 (sumber: halopacitan/istimewa)

PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan dunia penelitian di bidang kesehatan dengan mengambil peran dalam penelitian COVID-19.

Seperti dilansir dari Trenasia.com Jumat (26/2/2021) Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) dan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) akan menyediakan total dana sebesar Rp1,5 miliar untuk penelitian COVID-19. Ketua Ristek/BRIN Kalbe Science Awards (RKSA) 2021 Seimtiarti Wijaya mengatakan, hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian khusus untuk para peneliti COVID-19.

“Kami menyiapkan total dana maksimal Rp1,5 miliar untuk tiga proposal penelitian yang terpilih, dengan durasi penelitian diutamakan selama 12 bulan hingga maksimal 18 bulan,” katanya dalam diskusi ilmiah virtual, Kamis 25 Februari 2021.

Dari ketiga proposal yang telah disetujui selanjutnya akan dilakukan pemantauan secara berkala sesuai milestone pada proposal oleh dewan juri yang ditunjuk serta unit bisnis Kalbe terkait. Adanya program Ristek/BRIN Kalbe Science Awards (RKSA) 2021, Kalbe menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan dunia penelitian di bidang kesehatan dengan mengambil peran untuk memastikan kebermanfaatan hasil penelitian bagi masyarakat.

Direktur R&D Pharma PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Pre Agusta sekaligus Penasihat RKSA 2021 menyebut RKSA dapat meningkatkan kontribusi Ristek/BRIN dan Kalbe dalam hilirisasi penelitian bidang kesehatan khususnya life science, dengan memperkuat kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah.

Sementara itu, dr. Ida Gunawan ahli nutrisi klinikal dan Pengajar prodi S-2 dan PPDS Gizi Klinik Fakultas Kedokteran UI menjelaskan, sekitar 80% yang terinfeksi COVID-19 punya gejala ringan dan respons gejala yang berbeda tergantung dari variabel epidemiologis seperti intensitas, durasi dan virulensi virus, dan variabel host seperti kondisi kesehatan saat paparan, komorbid, kerentanan genetik.
Kerentangan genetik merupakan variasi genetik yang dapat memberikan respon berbeda pada kesehatan tiap individu dan diperlukan managemen kesehatan personal. Salah satunya dilakukan melalui penelitian di bidang nutrigenomik. Sehingga dapat diperoleh berbagai informasi risiko terhadap berbagai isu kesehatan, seperti risiko peningkatan IL6, risiko penyakit komorbid, dan lain-lain.

Menurut Ida, dapat dilakukan intervensi melalui perbaikan gaya hidup antara lain dengan memilih nutrisi yang sesuai dengan variasi gen yang dimiliki untuk meningkatkan imunitas.

Kemudian, Dr. Jin-zhong Xiao menambahkan bahwa Probiotik atau bakteri yang bermanfaat bagi kesehatan khususnya saluran pencernaan bertujuan untuk memperkuat imunitas tubuh dan melindungi tubuh dari infeksi.

“Bakteri probiotik bekerja menjangkau usus besar dalam keadaan hidup yang berfungsi untuk memperbaiki usus, mencegah infeksi dan memelihara kesehatan, serta mengatur keseimbangan biologis, yang paling dominan dan menguntungkan adalah bifidobacteria,” terangnya.

Penyelenggaraan RKSA 2021 akan dilalui dengan beberapa tahap, yaitu tahap penerimaan proposal penelitian Januari hingga April 2021, kemudian masa penilaian proposal Mei hingga Juni 2021. Kemudian, presentasi proposal terpilih Agustus 2021, dan pengumumannya akan dilakukan September 2021.

Sebagai informasi, diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu dr. Ida Gunawan, M.S.,Sp.GK(K), ahli nutrisi klinikal dari RS Pondok Indah Puri Indah – RS Hermina Daan Mogot. Pengajar prodi S-2 dan PPDS Gizi Klinik Fakultas Kedokteran UI ini mengupas topik Aplikasi Hasil Nutrigenomik di Masa Pandemi.

Kemudian ada Dr. Jin-zhong Xiao, Direktur Next Generation Science Institute, Morinaga Milk Industry Co., yang membahas topik The Effect of Probiotics in Strengthening Immune Activity and Protecting from Infection.

Bagikan:

RELATED NEWS