Momentum Hari Dongeng Nasional, Orang Tua Harus Mau Mendongeng

Halo Berita 2 Des 2019, By Rahmat DS
Momentum Hari Dongeng Nasional, Orang Tua Harus Mau Mendongeng (halopacitan/istimewa)

Lima hari yang lalu, tepatnya 28 November 2019 kita memperingati hari dongeng nasional. Euforia dalam merayakannya memang tidak segencar  hari guru, hari kesehatan atau bahkan hari KORPRI. Bahkan, momen penting itu terlewatkan begitu saja, terlebih di beberapa daerah peringatan hari dongeng nasional belumlah membumi.

Ditetapkannya tanggal 28 November sebagai hari dongeng nasional oleh Perpustakaan Kementrian Pedidikan dan Kebudayaan Republik Indoesia adalah berlangsung sejak tahun 2015, tepat di hari lahirnya  Drs. Suyadi, pemeran Pak Raden dalam serial Si Unyil. Hal tersebut disebabkan karena Pak Raden dianggap sebagai tokoh yang telah menghidupkan dunia dongeng.

Jauh sebelum gadget merambah dunia, dongeng menjadi andalan dalam meninabobokkan buah hati. Orang tua begitu antusias membacakan dongeng, spontanitas mendongeng tanpa buku, bahkan tidak jarang diantara mereka dengan totalitas mendongeng dengan berbagai karakter. Rupanya, hal itulah magnet, sehingga kedekatan antara orang tua dan anak sangatlah erat.

Seiring dengan berkembangnya zaman, rupanya mulai sedikit orang tua yang menyediakan waktunya untuk mendongeng kepada anak-anaknya. Beberapa diantaranya justru mempercayakan dan memutar cerita-cerita yang ada di chanel youtube bahkan merelakan putra putrinya menghabiskan waktunya bersama game di gadget kesayangannya.

Dikutip dari tirto.com Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makariem menjelaskan tentang pentingnya dongeng bagi anak yang tidak hanya kegiatan menidurkan tetapi dapat meningkatkan perkembangan pada otak kanan anak, psikologis, kecerdasan emosional serta meningkatkan imajinasi pada anak. Mendongeng akan membangun imajinasi anak yang ke depannya bisa bermanfaat untuk masa depannya.

 

Dalam hal mendongeng, orang tua juga harus paham tentang dongeng yang tepat sesuai usia. Dikutip dari beritagar.id, Cahyo Budi Dharmawan, pendongeng Komunitas Ayo Dongeng Indonesia (Ayodi), menjelaskan ada tiga fase yang harus diperhatikan dalam hal kesesuaian dongeng. Cerita dengan tokoh binatang (fabel)  lebih cocok untuk anak-anak di bawah usia tujuh tahun (2-4 tahun). Kedua, anak di usia sekolah dasar, usia 7-12 tahun akan lebih tertarik dengan kisah-kisah petualangan atau perjuangan. Sedangkan, pada usia sekolah menengah, mereka pun tetap membutuhkan orang tua untuk mendongeng. Di usia mereka cerita tentang tokoh-tokoh besar dunia akan memberikan inspirasi dan memtoviasi.

“Dongeng tentu menjadi sarana anak-anak belajar bahasanya. Disadari atau tidak ketika orang tua membacakan dongeng sedang terjadi transfer knowledge, transfer of value, dan transfer of religious. Itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya, oleh karena itu ayo luangkan waktu bacakan cerita untuk anak-anak kita, karena otak akan berkembang lebih luar biasa ketika dipergunakan secara maksimal. Ingat, bahwa anak-anak tidak membutuhkan fasilitas tetapi mereka butuh ruang-ruang dimana mereka bisa mengoptimalkan motoriknya”, tutur Dr. Sri Pamungkas kepada halopacitan (1/12/2019) saat ditemui terpisah.

undefined

SP