Sambal Bawang Diantara Sejarah dan Modernisasi

Halo Kuliner 26 Sep 2020, By Pamungkas
Sambal Bawang Diantara Sejarah dan Modernisasi (halopacitan/istimewa)

Rasanya hambar bila makan tanpa sambal. Nasi hangat dengan sambal dan lalapan pun bisa menjadikan perut kenyang. Terlebih dengan didampingi ikan laut goreng, tempe/tahu goreng, telur dadar, apalagi ayam atau daging.

Sambal bawang atau sebagian masyarakat menyebutnya sebagai sambal korek. Sambal yang satu ini sangat mudah membuatnya dengan bahan yang juga sangat sederhana. Cukup dengan cabai, bawang dan garam, sambal yang satu ini justru banyak digandrungi masyarakat termasuk masyarakat Pacitan.

Sambal bawang dengan ikan laut goreng dengan sayur lodeh dan nasi thiwul rupanya menjadi hidangan paling difaforitkan banyak orang di kota 1001 goa.

 “Bisa menghabiskan nasi kalau sudah ada sambal bawang, nasi thiwul apalagi ada ikan laut dan tempe goreng. Tidak ada duanya pokoknya”, ucap Sunarto salah satu warga Tanjungsari Pacitan”.

“Apa pun masakannya, sambal bawang menjadi terdepan. Tanpa sambal makan tidak enak”, tambahnya.

Perlu diketahui bahwa sambal pun mempunyai nilai sejarah. Dilansir dari https://brilicious.brilio.net/, Catenius van der Meijden, salah satu ahli kuliner di masa kolonial. Ia adalah seorang nyonya Belanda yang tinggal di Indonesia. Sebagai seorang nyonya meneer Belanda, Catenius dengan dibantu pembantu bertugas menyiapkan hidangan istimewa untuk seluruh keluarga.

Keahlian Catenius dalam memasak sambal kemudian dibukukannya dan terbit tahun 1942. Selain itu, ia juga menulis buku tentang Makanlah Nasi, yang terbit tahun 1922.

Resep sambal dari Catenius van der Meijden yang terkenal adalah sambal oeloek dan sambal telur. Ada juga nama-nama sambal lain yang unik-unik, yakni sambal serdadoe, sambal banjak, sambal brandal, dan lainnya.

undefined

SP