IMG-LOGO
Home Halo Berita Tidak Hanya Faktor C...

Tidak Hanya Faktor Cuaca, Inilah Penyebab Meluasnya Kekeringan di Pacitan

Tomi Herlambang - Kamis, 11 Juli 2019 pukul 02.47
 Sungai Luwuk, salah satu anak Sungai Grindulu yang sudah mengering Sungai Luwuk, salah satu anak Sungai Grindulu yang sudah mengering (sumber: Halopacitan/Tomi Herlambang)

Halopacitan, Pacitan—Bukannya semakin bisa diatasi, wilayah di Kabupaten Pacitan yang tahun ini berpotensi mengalami kekeringan semakin luas. Cuaca disebut sebagia penyebab kondisi ini, tetapi juga ada faktor lain

Berdasarkan data yang diterima BPBD Pacitan per hari ini sudah ada 49 desa yang mengalami kekeringan, itu berarti dalam empat hari bertambah empat desa karena berdasarkan data yang dirilis Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Didik Alih Wibowo 7 Juli 2019 lalu baru 45 ada desa. Jumlah ini juga meningkat tajam dibanding tahun 2018 yang tercatat ada 25 desa mengalami kesulitan air saat kemarau.

Didik Alih Wibobo ditemui Kamis (11/07/20119) mengaku telah menganalisa meluasnya kekeringan di Pacitan ini. Menurut Didik, meluasnya kekeringan di Pacitan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu musim kemarau yang datang lebih cepat serta curah hujan yang pendek pada tahun sebelumnya. Masalah lain adalah terganggu dan hilangnya jalur-jalur suplai air alami akibat bencana tahun 2017 dan tumbangnya pepohonan di sekitar sumber air baku.

"Kemarau yang datang lebih awal ini membuat menipisnya cadangan air, karena masyarakat menggunakannya juga lebih awal. Sedangkan untuk curah hujan, walaupun tahun kemarin cukup deras bahkan mengakibatkan bencana banjir di beberapa wilayah namun karena pendeknya musim penghujan maka penyerapan tanah atas air hujan menjadi tidak maksimal," jelasnya.

 "Hal ini juga diperparah dengan rusaknya jalur suplai air alami akibat bencana dikarenakan pergeseran struktur tanah di sekitar mata air akibat longsor maupun banyaknya pohon-pohon yang tumbang," sambung Didik lagi.

Terkait dengan program-program penghijauan yang terus digalakkan pemerintah, menurut Didik kekeringan tahun ini belum menjadi indikasi kegagalan atas program penghijauan. Ia lebih berpegang pada faktor perubahan iklim global dan bencana-lah yang menjadi penyebab utama.

Didik mengaku telah terjun langsung kebeberapa wilayah yang dilaporkan mengalami kekeringan terutama wilayah-wilayah baru yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah mengalaminya. "Seperti di wilayah Kecamatan Bandar, tahun-tahun sebelumnya hanya Desa Petungsinarang yang melaporkan. Kemarin Desa Tumpuk juga melaporkan kekurangan air bersih, padahal secara geografis daerah Bandar adalah area tangkapan air hujan alami, hal ini menunjukkan kerusakan struktur tanah akibat bencana yang mengganggu sumber air juga berdampak pada kekeringan tahun ini," ungkapnya.

Didik menambahkan BPBD telah melakukan langkah-langkah strategis untuk penanggulangannya yaitu dalam jangka pendek melakukan eksekusi langsung berupa droping air bersih ke wilayah yang mengalami kekeringan dan dalam jangka panjangnya melakukan koordinasi lintas sektoral guna penyediaan air bersih yang bersifat tidak kedaduratan dan tidak instan di kantong-kantong kekeringan. "Hal itu juga telah kita sampaikan kepada ibu Gubernur pada saat kunjungan beliau kemarin," kata Didik.