Wagub Emil: Megengan Hasil Akulturasi Budaya Lokal dan Budaya Islam
Menjelang puasa bulan Ramadhan, budaya khas atau tradisi Megengan menjadi penanda bagi umat Islam untuk melakukan persiapan khusus menyambut datangnya bulan suci tersebut. Mempertahankan tradisi tersebut Pemprov Jatim menggelar megengan dengan kirab apem dengan formasi 1-4-4-2 sesuai tahun hijriyah Minggu (11/4/2021) malam di Gedung Negara Grahadi Surabaya,.
Kirab dilakukan gabungan ASN bersama TNI dan Polri sebanyak 11 orang. Acara pembuka dalam perayaan megengan itu disaksikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mewakili Gubernur Khofifah yang masih menangani pasca bencana gempa bumi di wilayah Lumajang, seperti dilansir dari kominfo.jatimprov.go.id Senin (12/4/2021).
"Tadi kita menyaksikan kirab apem yang membentuk formasi 1-4-4-2. Jumlahnya pas ini 11 seperti tim sepak bola. Satu kiper, penyerang dua, beck nya empat, tengahnya empat. Insyaallah ini formasi menang untuk menjemput hari kemenangan pada Idul Fitri nanti dan semoga menuju selesainya pandemi dalam waktu yang tidak lama lagi," kata Emil.
Emil menjelaskan, megengan adalah hasil dari akulturasi budaya lokal dan budaya Islam yang masih terjaga sampai sekarang.
"Salah satu Wali Songo yang menggunakan pendekatan budaya lokal sebagai media dakwah adalah Sunan Kalijogo. Beliau yang mengenalkan tradisi megengan sebagai ritual mapak atau menjemput awal bulan puasa dengan memperbanyak sedekah dan saling memberi," ungkapnya.
Mantan Bupati Trenggalek ini berharap tradisi megengan menjadi sebuah motivasi membangun solidaritas, keikhlasan, kebersamaan, serta memperkuat iman dan taqwa.
"Mari kita jadikan sedekah sebagai sarana saling membantu karena ada yang kurang beruntung dalam situasi pandemi. PHK, penurunan daya beli, Insyaallah bisa kita hadapi dan kurangi dengan zakat infaq dan shodaqoh," jelasnya.
Wagub menambahkan, dalam tradisi megengan juga dilakukan ziarah kubur. Artinya, kata dia, bulan puasa juga mengingatkan akan kematian.
"Bagaimana kita berlomba-lomba untuk bisa menabung pahala sebagai investasi akhirat. Kita berpuasa untuk menahan nafsu makan dan lainnya dalam kehidupan sehari-hari yang dikendalikan agar tidak terjerumus dalam kenistaan," tuturnya.
Ramadhan kali ini sama dengan tahun lalu, yakni masih di masa pandemi. Ia berpesan agar beribadah selama bulan Ramadhan tetap menerapkan protocol kesehatan.
"Tapi Alhamdulillah tahun ini kita masih bisa tarawih karena sudah ada protokol kesehatan uang bisa diterapkan. Masker, sanitizer dan lainnya sudah lebih tersedia hari ini. Maka dengan tetap mengindahkan bahkan mematuhi setinggi-tingginya protokol kesehatan, Insyaallah kita bisa meningkatkan ibadah kita di bulan Ramadhan 1442 Hijriyah kali ini," pungkasnya.
