Yuk, Waspada dan Lakukan Antisipasi Bencana Hadapi La Nina

Halo Berita 14 Okt 2020, By Rahmat DS
Yuk, Waspada dan Lakukan Antisipasi Bencana Hadapi La Nina (halopacitan/istimewa)

La Nina adalah pendinginan, merupakan anomali sistem global yang cukup sering terjadi dengan periode ulang berkisar antara dua sampai tujuh tahun. Kejadian La Nina terjadi saat Samudera Pasifik dan atmosfer di atasnya berubah dari keadaan netral (normal) pada periode waktu dua bulan atau lebih. Diperkirakan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) masih akan terjadi antara Desember 2020-Januari 2021.

Perlu kewaspadaan tinggi, pasalnya dari prediksi BMKG puncak fenomena La Nina di Indonesia diperkriakan akan terjadi di Desember 2020-Januari 2021, yang berbarengan dengan. Kewaspadaan dan atisipasi bencana benar-benar harus dilakukan dalam situasi demikian.

“La Nina puncaknya Desember 2020. Sehingga kita perlu mewaspadai puncak La Nina dan musim hujan dalam kisaran Desember-Januari-Februari,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati seusai rapat terbatas virtual yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa 13 Oktober 2020 kemarin, seperti dilansir dari TrenAsia.com.

Meskipun puncaknya baru terjadi di Desember 2020, La Nina telah mengakibatkan curah hujan tinggi itu sudah terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia pada Oktober 2020 ini.

La Nina merupakan fenomena alam yang terjadi karena meningkatnya suhu permukaan Samudera Pasifik timur dan tengah, kemudian menyebabkan peningkatan suhu kelembapan pada atmosfer di atas perairan. Hal itu mengakibatkan pembentukan awan dan meningkatkan curah hujan di kawasan tersebut.

BMKG memperkirakan dampak La Nina di Oktober 2020 akan menerpa hampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali Sumatera dan Papua bagian timur. Namun meskipun tanpa La Nina, Sumatera sudah mengalami curah hujan tinggi karena kondisi topografi lokal.

“Jadi kesimpulannya mulai Oktober-November 2020 seluruh wilayah Indonesia perlu diwaspadai. Bagaimana Desember? La Nina itu semakin menguat,” kata Dwikorita.

Menteri Sosial, Juliari Batubara mengatakan pihaknya telah menyiagakan hampir 39.000 relawan untuk mengantisipasi datangnya fenomena La Nina, di wilayah Indonesia di penghujung Tahun 2020 ini.

“Kemensos memastikan kesiapan dari segi logistik bantuan harus selalu dalam keadaan siap. Instruksi Presiden clear, apabila bencana datang kita harus distribusikan bantuan tersebut, sehingga kami sudah menyebar hampir 39.000 relawan,” kata Mensos dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan relawan tersebut selalu dalam kondisi siaga satu meskipun tidak ada bencana. Sehingga begitu bencana benar-benar terjadi, Kemensos tinggal menginstruksikan para relawan untuk ke lokasi bencana dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan distribusi bantuan dan lain-lain.

Mensos juga menyampaikan terkait teknis pengungsian pihaknya akan melihat kondisi di masing-masing lokasi jika bencana terjadi, terutama menyangkut persoalan masih adanya pandemi.

Menurutnya, tempat atau tenda pengungsian akan diberlakukan sesuai protokol kesehatan dengan memperhatikan jumlah pengungsi dalam setiap tenda atau tempat pengungsian.

undefined

SP